Senin, September 17, 2007

KIAI MANIK RETNO


Oleh : Alatief Hanan

Menurut sejarah, ketika Sultan Hamangku Buwono IV melakukan inspeksi ke luar kota untuk melakukan pendekatan dan memberikan pengarahan kepada para wakil-wakil pemerintahan kasultanan, alat transportasi yang dipergunakan adalah kereta kuda yang bernama Kiyai Manik Retno.

Penggunaan nama kereta ’kiai manik retno’ dapat dipastikan agar seluruh kegiatan yang menggunakan kereta tersebut berdampak kepada hal-hal yang bermanfaat, sebagaimana arti dari manik retno (permata hati) itu sendiri.

Dalam sejarah tempo dulu, hampir secara turun menurun selalu menggunakan nama, sebutan dan istilah sebagai media do’a (harapan). Yang sangat lazim kita temui adalah pemberian nama anak yang sedang lahir, hampir semua kultur sepakat, pemberian nama pada anak merupakan do’a orang tua sehingga anak akan menjadi permata hati keluarga.

Sesuai kemajuan zaman, nama dan istilah agar menjadi harapan dan permata hati diberikan juga pada nama perusahaan atau usaha. Justru, pada komunitas tertentu –khususnya Jawa dan Cina- pemberian nama perusahaan atau usahanya mewajibkan menggunakan nama-nama yang dapat mendongkrak kemajuan dan keberhasilan (bhs jawa : ka-begjan). Kemudian pada zaman moderen saat ini nama dan sebutan yang baik dijadikan motto atau yel-yel yang dapat memotivasi anggotanya agar selalu berbuat baik.

Kolaborasi pemberian sebutan ternyata merambah kepada sistem pemerintahan. Diberbagai kementerian negara dan lembaga pemerintahan berusaha memiliki motto yang mampu menjadi permata hati masyarakat. Paling tidak menjadi alat meyakinkan masyarakat bahwa tujuan utama dari kementerian negara dan lembaga pemerintah tersebut mengutamakan kepentingan rakyat.

Tidak salah kalau Departemen Agama memiliki motto ”ikhlas beramal”, karena lahirnya motto tersebut sudah pasti keluar dari hati nurani paling dalam dan bersih para pendiri dengan harapan agar seluruh jajaran pegawai mampu menjadi pelayan masyarakat dengan tekat yang tulus, bekerja dengan jujur, menentukan sikap dengan adil dan menjalankan tugas secara amanah.

Konsekuansi logis bagi para pegawai dan pejabatnya adalah harus mampu menjadi tauladan masyarakat, dengan tidak berbuat ceroboh dan melanggar hukum, sehingga mampu menjadi permata hati yang dilayani.

Dalam masa pencerahan sistem perkantoran, yang mengarah kepada kemajuan dan modernisasi sistem, hampir semua perkantoran pemerintah menginginkan optimalisasi pelayanan dan memfokuskan pada kepuasan (customer value). Dalam pemerintahan Islam, strategi untuk memberikan kepuasan layanan kepada masyarakat tidak serumit apa yang sedang berkembang saat ini. Paling tidak ada dua unsur penting yang harus dihilangkan dalam cara menjalankan (manajerial) lembaga dan pemerintahan Islam, yaitu menghilangkan bohong dan bodoh.

Sebagai abdi masyarakat, maka sangat penting untuk memulai menghilangkan bohong, karena dengan berbekal satu kali bohong, maka akan susah untuk tidak mengulangi lagi, apalagi kebohongan yang berdampak merugikan orang lain maka selalu berpotensi untuk diulangi. Sering tidak disadari oleh pegawai, bahwa memulai pekerjaannya dengan selalu melebih-lebihkan (overstated), maka selanjutnya akan berlaku bohong. Bagi yang telah terbiasa bohong, maka menghilangkan bohong sangatlah sulit, akan tetapi bagi yang berusaha dengan sungguh-sungguh hal itu tidaklah sulit, justru yang paling penting adalah berusaha dari permulaan.

Selanjutnya hilangkan bodoh, dengan selalu mencari dan menambah ilmu pengetahuan maka (paling tidak) pegawai akan selalu bekerja penuh kreatif, inovatif dan toleran. Pegawai yang berilmu pengetahuan (knowledge worker) maka selalu mengedepankan kepentingan yang dilayani dan menghilangkan kesan yang selama ini menempel pada identitas birokrasi yaitu ”birokrasi itu panjang dan rumit, birokrat itu ujung-ujungnya korupsi”.

Survey membuktikan, porak porandanya sistem pemerintahan salah satunya disebabkan cara memimpin yang tidak bisa menghilangkan kebohongan dan kebodohan.

Tidak ada komentar: